Bencana Terbesar Umat Manusia Abad 21, si paling Sampah?
Yazid Adzadin S.
Ilmu Komunikasi Kons. Humas 2019
UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Bukan Indonesia bila tak mampu menarik atensi dunia. Yup, yang kalian lihat disini, bukan sebuah tambang emas, nikel, atau bahkan batu bara, tapi tambang sampah terbesar di dunia yang berada di TPST Bantar Gebang, Kota Bekasi, Jawa Barat. Bukan hal yang membanggakan memang, tapi itulah faktanya.
Baru-baru ini data spesifik mengenai volume sampah yang menumpuk di Indonesia tercatat berada di angka 68,5 juta ton pada tahun 2021, dan justeru meningkat menjadi 70 juta ton pada tahun 2022 yang lalu. Itu artinya, dalam waktu hanya satu bulan saja Indonesia mampu mengumpulkan 5,8 juta ton, dengan persentase sampah rumah tangga yang mencapai 42,3%, perniagaan sebesar 19,1%, dan pasar yang menyumbangkan 15,26% sampah yang tak mampu tertangani dengan baik. Sebuah gambaran raksasa betapa masih tidak efektifnya kampanye zero-waste yang digalangkan oleh pemerintah sebagai pemangku kebijakan tertinggi.
Sebenarnya apabila kita sendiri mau bertanya siapa yang harus disalahkan, sudah seharusnya kita dapat berpikir panjang dan mendalam. Fenomena terkait sampah ini sebenarnya bukan barang lama atas efek yang dihasilkan dari semakin berkembangnya produksi sektor industri. Disamping sifat konsumtif masyarakat yang tak mampu dibendung, peran industri yang belum mampu menciptakan inovasi kemasan secara efektif, tata kelola sampah yang sangat belum mumpuni, serta literasi akan makna sampah bagi kehidupan yang sangat rendah, membuat sampah bukan hanya menjadi tumpukan masalah, namun bencana umat manusia paling parah yang takan pernah diakui siapa yang akan paling bersalah. Manusia, atau sampah itu sendiri?
Sampah saat ini merupakan sketsa wajah bangsa kita, dengan berjubel masalah mental anak bangsa yang belum kunjung aware terhadap situasi lingkungan yang kritis. Sampah juga telah menunjukan fakta bahwa bangsa kita masih menjadi bangsa yang tertinggal, bukan hanya perihal teknologi, namun juga peradaban manusianya. Selamanya kita akan berkutat dengan masalah sampah yang kian menggunung mengotori langit, bila kita tidak pernah memulai dari diri kita sendiri untuk berubah.
Terkait dengan pengelolaan sampah, hal ini juga menjadi cerminan tingkat keseriusan pemerintah untuk mau berinvestasi menciptakan terobosan tata kelola sampah daur ulang. Meski memang telah ada beberapa alat dan teknologi yang dapat digunakan, hanya saja pada kenyataan di lapangan, hal ini belum kunjung efektif karena masih kurangnya sumber daya manusia yang kompeten untuk mengelola tersebut. Regulasi dan kebijakan yang dibuat pun belum dapat sepenuhnya di indahkan oleh para pelaku usaha dan industri manapun karena tingkat hukuman bagi para pelanggar belum mampu memberikan efek jera.
At the end of the day, sampah masih akan menjadi suatu hal yang rumit bahkan kompleks, satu-satunya solusi untuk mengatasi masalah ini adalah dengan keteladanan bersama serta regulasi hukum yang tegas dan konsisten untuk memberikan dampak keras kepada siapapun itu yang melanggar aturan.
Sumber referensi :
dataindonesia.id (mayoritas sampah Indonesia berasal dari rumah tangga) diakses pada 20 Februari 2023, https://dataindonesia.id/ragam/detail/mayoritas-sampah-indonesia-berasal-dari-rumah-tangga
dpr.go.id (Ditjen PSLB3 KLHK Didesak Miliki Langkah Terukur Tangani Volume Sampah) diakses pada 20 Februari 2023, https://www.dpr.go.id/berita/detail/id/40924/t/Ditjen+PSLB3+KLHK+Didesak+Miliki+Langkah+Terukur+Tangani+Volume+Sampah

Komentar
Posting Komentar