Thoughts on Adulting: Pesan untuk diri yang sedang krisis identitas
Amelia Putri Nabila
Manajemen keuangan syariah
Krisis identitas atau quarter life crisis,belakangan ini sedang ramai di perbincangkan di media social. Krisis ini dipicu oleh ketimpangan antara tuntutan perkembangan masa dewasa untuk menjadi mandiri secara mental,finansial maupun karier. Bagi sebagian orang quarter life crisis menjadi sebuah ancaman yang nyata dan penuh tantangan. Mereka akan bertanya-tanya apa tujuan hidupnya.
Quarter life crisis adalah reaksi individu terhadap ketidakstabilan yang memuncak,perubahan yang konstan dan terlalu banyaknya pilihan-pilihan yang disertai rasa panik dan tidak berdaya. Awal mula krisis ini ditandai dengan timbulnya berbagai emosi negative seperti cemas dan frustasi.
The Guardian menyatakan dalam penelitian bahwa 86% milenial mengalami quarter life crisis. Survei juga dilakukan oleh badan riset dari Linkedln, hasil diperoleh bahwa quarter life crisis yang terjadi pada generasi milenial banyak dialami perempuan sebesar 61%.
Pemicu quarter life crisis sangatlah bervariasi, diantaranya 57% merasa kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai dengan passion, 57% mengalami tekanan lantaran belum memiliki rumah, dan 46% mengaku tertekan akibat belum memiliki pasangan. Keadaan inilah diakibatkan permasalahan keuangan pada individu,sehingga membuat milineal merasa insecure, kecewa, kesepian sampai depresi.
Setiap individu yang sedang mengalami transisi ini akan merasa struggle,karena pada masa ini kita seperti terjun ke dalam dunia yang tidak terstruktur. Ketika kita masih anak anak dulu,alur hidup kita seakan terstruktur dengan jelas seperti kita meraih nilai yang bagus lalu bisa naik kelas dan seterusnya. Tetapi,pada masa sekarang kita sadar bahwa sedang dihadapkan pada alur yang tidak terstruktur,kita merasa bingung karena setelah kita selesai menempuh pendidikan tinggi ini tujuan selanjutnya apa? Kita langsung bertanya- tanya mengapa alur nya menjadi tidak terstruktur dan se-clear dulu? Dari sinilah pemicu krisis identitas ini lahir dan membuat diri kita cenderung menjadi overthingking juga.
Selain itu, sekarang ini di sosial media kita juga jadi ada elemen perbandingan antara diri kita dengan orang lain. Kita bisa melihat achieve teman teman kita yang sudah lulus kuliah,mendapat kerja atau bisnis nya sudah berhasil. kita cenderung akan semakin krisis identitas dan merasa tertinggal karena unggahan di sosial media dan akan menyebabkan
kita merasakan insecure.Timbul perasaan bahwa apa yang sedang dimiliki saat ini tidak cukup baik.
Individu yang sedang berada pada fase ini membutuhkan solusi agar tidak terjadi kecemasan yang berlebih yang bisa sampai mengalami depresi. Sikap yang bisa kita ambil untuk menghadapi fase ini yaitu, kita harus sadar bahwa kita tidak sendirian. Banyak orang muda maupun tua,mempunyai pasangan atau tidak,sukses atau gagal semua itu takut pada ketidakpastian dan masa depan selalu tidak pasti dan tidak benar benar diketahui. Sadari bahwa ini adalah fase yang normal.
Kurangi sikap membandingkan diri dengan orang lain,hargailah kemenangan atau pencapaian yang kamu raih dengan bangga. Jika mengalami kegagalan,cepat untuk bangkit dan mencari teman diskusi yang tepat. Kembangkan minat dan bakat agar kita bisa untuk terus menambah nilai pada diri kita. Itu bisa membuat rasa percaya diri kita bertambah dan mengurangi rasa insecure.
Mencintai diri sendiri, seperti melalukan aktifitas yang membuat diri sendiri lebih produktif seperti olahraga,membaca buku,mempelajari hal baru. Selain itu kita juga harus mempunyai lingkungan yang mendukung dan menginspirasi kita untuk jauh lebih baik lagi. Menggunakan social dengan baik,seperti mengikuti akun yang menginspirasi dan memotivasi kita. Semua kegiatan ini akan berpengaruh terhadap kesehatan mental kita.
Kita juga harus mendekatkan diri dengan tuhan. Hal ini dilakukan dengan cara meningkatkan sikap spiritual pada diri dan menciptakan rasa syukur setiap keberhasilan dari usaha yang dilakukan. Keyakinan kita terhadap tuhan,dapat membangun energi positif untuk mewujudkan masa depan. Setiap individu tugasnya adalah berusaha,berdoa serta berserah dengan apa yang sudah ditakdirkan. Dengan demikian, tidak akan ada rasa kekhawatiran yang berlebih saat menghadapi tujuan hidup ini.

Komentar
Posting Komentar