Personal Well-Being Is Created From A Healthy Mentality
Dwiyanto Ramadhan
Manajemen
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati
Perubahan dalam berbagai aspek dalam bidang kehidupan yang berlangsung secara dinamis, tiada henti, dan semakin beragam tentu memiliki dampak baik dan buruk terhadap kehidupan manusia.
Kita sebagai manusia mau tidak mau dipaksa untuk dapat ikut terlibat dalam perubahan yang belum tentu memang ditujukan untuk diri kita dan belum tentu diri kita siap akan perubahan tersebut. Yang perlu dipertanyakan yaitu, apakah kita sebagai manusia bisa untuk dapat mengendalikan perubahan ? Tidak. Apakah bisa dengan jiwa manusia yang tergolong rapuh dapat beradaptasi dan bertahan dengan perubahan-perubahan besar yang ada dalam sosial budaya, teknologi dan lain sebagainya ? Tergantung.
Dari permasalahan diatas, dimana diri yang tidak siap akan banyaknya perubahan yang terjadi dalam kehidupan tentunya menjadi salah satu akar manusia dapat mengkerdilkan dirinya. Dengan perubahan yang tergolong cepat, kita sebagai manusia dipaksa untuk mengikuti perubahan yang terjadi dan otomatis kita menaruh ekspektasi yang besar pada diri kita sendiri untuk dapat bisa beradaptasi dengan perubahan tersebut.
Tetapi jika ekspektasi itu tidak terpenuhi yang akan terjadi hanyalah menyalahkan diri sendiri dan menganggap rendah diri, sehingga dapat menyebabkan menurunnya kesehatan mental karena rendahnya motivasi yang diikuti oleh tekanan pada diri yang terus meningkat. Dengan kata lain, perubahan yang tidak ditanggapi dengan baik akan berdampak buruk pada kesehatan mental manusia.
Sajian-sajian informasi karena perubahan yang tidak dapat kita kendalikan saat ini dapat menjadi salah satu penyebab manusia membandingkan dirinya dengan orang lain. Pada hakikatnya, informasi seharusnya dijadikan sebagai sarana dalam pengembangan pengetahuan dan motivasi diri, tetapi karena tidak disikapi dengan baik tentunya akan berdampak pada pengkerdilan diri yang berakibat pada penuruan kesehatan mental manusia, terkhususnya remaja.
Berdasarkan data Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), dimana remaja Indonesia berusia 10-17 tahun memiliki gangguan kesehatan mental dengan gangguan paling banyak diderita berupa gangguan cemas yakni sebesar 3,7%. Dimana hal tersebut dapat terjadi karena ekspektasi yang tidak berjalan sesuai harapan yang menyebabkan gangguan cemas karena tidak pandai dalam menanggapi keadaan maupun perubahan.
Gangguan cemas yang berkelanjutan juga dapat menyebabkan depresi yang dapat berujung pada tindakan bunuh diri.
Kita sebagai manusia sudah mulai perlu untuk menyadari akan penting nya kesehatan mental yang baik guna menciptakan kesejahteraan pada diri. Langkah awal dalam menciptakan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental adalah dengan mulai mengedukasi diri dan mulai mencerna segala asupan-asupan dari segala perubahan-perubahan yang tiada henti ini dengan
baik. Kita tidak dapat mengendalikan perubahan, tetapi kita dapat mengendalikan diri untuk menanggapi perubahan.
World Health Organization (WHO) mengatakan “Kesehatan Mental sangat penting bagi kesehatan dan sangat penting bagi penciptaan kesejahteraan diri, hubungan sosial, dan kontribusi yang sukses dalam masyarakat”. Dengan demikian selain mengedukasi diri, saya juga menyarankan untuk kita sebagai manusia terkhususnya remaja yang rentan akan gangguan kesehatan mental agar dapat lebih menghargai diri kita atas segala sesuatu, baik maupun buruknya diri kita.
Kita sebagai manusia mempunyai waktu masing-masing untuk dapat mekar, tidak harus merasa rendah diri karena perubahan ataupun keadaan lingkungan yang jauh lebih besar dan jauh diatas kita. Hidup bukan ajang perlombaan, jadi tidak perlu terburu-buru yang penting sampai pada tujuan. Karena pada akhirnya kesehatan mental yang baiklah yang membantu dan menuntun kita mencapai kesejahteraan diri.
Referensi :
World Health Organization, 2022. Mental Health in the South-East Asia .
Indonesia National Adolescent Mental Health Survey. 2022. Gangguan Mental yang Paling Banyak Diderita Remaja.

Komentar
Posting Komentar