Pendengar yang Baik menjadi Teman Baik bagi Mental Illness
Ranti Febrianti
Administrasi Publik
UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Menyinggung arti dari mental health mungkin banyak sekali pandangan-pandangan yang akan terlontar. Tetapi secara garis besar, mental health atau kesehatan mental ialah suatu kondisi dimana seseorang dapat merasakan ketenangan, ketentraman, bahkan naluri kebahagiaan didalam dirinya.
Mental health menjadi salah satu hal yang sangat lumrah di berbagai kalangan generasi, terutama generasi milenial. Sekian jumlah generasi milenial yang ada mungkin pernah membahas tuntas mengenai mental health ini. Tetapi, dari sekian jumlah tersebut mungkin hanya beberapa saja yang dapat memahami apa itu mental health pun memahami orang yang mengalami gangguan mental health atau disebut dengan mental illness. Dipandang sebelah mata, ya, kalimat yang sangat identik dengan kondisi mental health di kalangan generasi milenial.
Pandangan yang seharusnya berupa dukungan bahkan rasa kasih, tetapi lain, justru malah dua perspektif yang berbeda, positif dan negatif dalam menanggapi orang yang mengalami mental health atau identik dengan mental illness. Lantas, mengapa hal ini terjadi dan menjadi suatu siklus yang terulang?
Mental illness ialah kondisi seseorang mengalami gangguan mental atau jiwa. Hal ini dapat terjadi karena latar belakang yang dialami pun dirasakan oleh seseorang tersebut. Latar belakang dari sisi keluarga, sosial, pendidikan, pertemanan, bahkan problematika diri sendiri menjadi bagian dari penyebab seseorang dapat terkena mental illness. Terbuka atau tertutup pun bisa menjadi penyebab seseorang mengalami mental illness.
Generasi milenial menjadi salah satu kalangan yang mengalami kondisi mental health bisa dibilang berada di puncak teratas, tetapi orang-orang disekitarnya masih bisa dikatakan berada jauh dengan mereka. Hanya sekedar ingin tahu tanpa mengerti lebih dalam terhadap orang-orang yang mengalami mental illness. Inilah penyebab terkuat orang-orang yang mengalami mental illness menjadi enggan untuk memulai bersuara merangkai kata-kata menjadi sebuah cerita untuk bisa didengarkan oleh orang lain sebagai ‘pendengar.’
Dari berbagai sebab diatas yang dapat menjadi penyebab munculnya mental health dan mental illness ini menjadi suatu hal yang seharusnya benar-benar disadari dan dipahami oleh orang-orang. Tidak hanya rasa ingin tahu yang besar saja tetapi harus beriringan dengan rasa peduli dan kepekaan yang besar.
Tetapi, kondisinya tidak semudah itu untuk membuat orang di sekeliling kita untuk mengerti akan mental health atau mental illness. Padahal, tidak perlu mengeluarkan pengorbanan yang besar untuk mengertinya, hanya dengan kesediaan mereka untuk menjadi pendengar yang baik bagi mereka yang membutuhkannya.
Lagi-lagi, tidak semua orang ingin benar-benar menjadi pendengar yang baik. Hal inilah menjadi pemicu akibat munculnya mental health pun mental illness, karena masih belum semua orang dapat memahami apalagi menjadi pendengar yang baik.
Andaikata, orang-orang terutama sesama generasi milenial dapat saling mengerti akan mental health atau mental illness, mungkin tidak akan semakin bertambah banyak jumlah yang mengalami mental illness, dan mungkin bisa saja akan menurun secara perlahan-lahan, karena antar sesama, saling memberikan uluran tangan, naluri hati, dan bersedia tulus menjadi pendengar yang baik.
Maka, sudah saatnya antar sesama terutama sesama generasi milenial untuk memiliki pandangan terbuka akan mental health atau mental illness dengan cara saling mengerti, memberikan uluran kasih, dan bersedia menjadi pendengar yang baik. Karena, pendengar yang baik ialah teman baik bagi siapapun yang membutuhkannya.
Sumber Referensi:
Anwar, F. (2017, April 7). Cara Menjadi Pendengar yang Baik untuk Teman yang Depresi. Retrieved January 17, 2023, from Pendengar Baik bagi Mental Health: https://health.detik.com/anak-dan-remaja/d-3468026/cara-menjadi-pendengar-yang baik-untuk-teman-yang-depresi
Astuti, N. F. (2021, June 11). Definisi Mental Health. Retrieved January 17, 2021, from Mental Health: https://www.merdeka.com/jabar/apa-itu-mental-health-berikut-cara menjaganya-dengan-baik-kln.html
Fitria, U. L. (2019, July 4). Pentimgnya Menjaga Kesehatan Mental Bagi Kehidupan. Retrieved January 17, 2023, from Mental Health: https://www.idntimes.com/opinion/social/ummi-latifah-fitria-hamdan/opini pentingnya-menjaga-kesehatan-mental-bagi-kehidupan-c1c2
Itsojt. (2019, October 10). Mari Lebih Peka dan Menjaga Kesehatan Mental Bersama. Retrieved January 17, 2023, from Mental Health: https://www.its.ac.id/news/2019/10/10/mari-lebih-peka-dan-menjaga-kesehatan mental-bersama/
Nesya, N. (2022, January 17). Mengapa Kesehatan Mental Sering Dipandang Sebelah Mata? Retrieved January 17, 2023, from Mental Health: https://id.quora.com/Mengapa kesehatan-mental-sering-dipandang-sebelah-mata
Nihayah, U. (2016). Peran Komunikasi Interpersonal untuk Mewujudkan Kesehatan Mental bagi Konseli. Islamic Communication Journal, 32-33.
Putri, N. H. (2022, August 12). Menjadi Pengengar yang Baik untuk Bangun Ketahanan Mentak. Retrieved January 17, 2023, from Pendengar yang Baik: https://lifestyle.kompas.com/read/2022/08/12/120000220/menjadi-pendengar-yang baik-untuk-bangun-ketahanan-mental?page=all

Komentar
Posting Komentar