Mitigasi Bencana, Ubah Rasa Khawatir Jadi Upaya Solutif

 Intan Faizatul Wida- HRD 2022


Saat mendengar kata bencana alam, apa yang pertama terbersit di benak kamu? Mungkin kamu akan merasa khawatir dan membayangkan sesuatu yang menakutkan, terlebih bencana alam sendiri sering datang di penghujung tahun.


Sebut saja Tsunami Flores (Desember 1992), Gempa dan Tsunami Aceh (Desember 2004), Letusan Gunung Merapi (November 2010), dan yang terjadi baru-baru ini yaitu Gempa di Cianjur (November 2022). 


Timbulnya bencana alam ini tak lepas dari faktor geografis Indonesia yang dilalui oleh garis khatulistiwa serta iklimnya yang tropis. Hal ini menyebabkan Indonesia rawan terkena badai, topan, dan siklon tropis yang kerap terjadi di negeri khatulistiwa.

Selain itu, sirkum pasifik yang mengelilingi bentang alam Indonesia, berpotensi besar terhadap terjadinya gempa bumi. 

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lebih dari 25.000 bencana terjadi di Indonesia dalam satu dekade terakhir, dengan bencana tahunan tertinggi pada tahun 2019, yaitu 3.814 bencana.

Bencana alam yang terjadi pun merenggut ratusan hingga ribuan korban jiwa, puncaknya di tahun 2018, yang memakan hingga 6.240 jiwa.  

Meskipun kerap mengkhawatirkan, kamu tidak perlu cemas secara berlebihan. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan guna mengurangi dampak dari bencana itu sendiri, salah satunya dengan mitigasi.

Mitigasi sendiri merupakan upaya antisipasi guna mengurangi dampak dari bencana. Secara umum, tahapan dari mitigasi yaitu dimulai sebelum bencana terjadi, saat bencana terjadi, dan setelah bencana terjadi. 

Salah satunya yaitu mitigasi gunung berapi. Untuk antisipasinya, pemerintah dapat mengupayakan pemantauan aktivitas gunung api dan menentukan radius aman untuk masyarakat.


Hal ini berguna untuk mengetahui waktu-waktu yang berpotensi terjadinya gunung api, sehingga masyarakat bisa lebih antisipatif. 


Kemudian, masyarakat juga dapat turut melakukan mitigasi saat akan terjadi bencana dengan menghindari tempat terbuka dan aliran sungai, memakai pakaian tertutup, menggunakan masker, dan tidak berada di lokasi dengan radius yang telah ditentukan. 


Dengan diterapkannya mitigasi ini diharapkan menjadi upaya yang solutif sebagai bentuk antisipasi bencana dan mengurangi dampaknya. Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat harus bersinergi guna terlaksananya mitigasi secara maksimal dan upaya pengurangan resikopun dapat terwujud sebagaimana mestinya. 


Referensi: 

Gambar : Tempo.co

Data: BNPB 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pahami Apa Itu TD Valas DHE, Instrumen Operasi Moneter Bank Indonesia

Tentang Program Beasiswa Bank Indonesia

Penting! Cara Bertahan Hidup di Suhu Bumi yang sedang Labil