Menyembuhkan Diri ‘Seharusnya’ Tidak Membuat Orang Lain Sakit
Ummu Tasyiah Arsa
Ilmu Administrasi Publik
Universitas Jendral Soedirman
Banyak dari kita yang merasakan trauma masa lalu yang membekas atau tertekan karena lingkungan yang tidak suportif sehingga mental kita menjadi tidak stabil bahkan ketika menjalin hubungan dengan orang lain.
Mulanya pasangan kita menjadi tempat cerita segala keresahan, menjelma menjadi rumah paling nyaman saat berantakan, sampai pada titik tanpa sadar kita menjadikannya samsak atas kesakitan yang kita terima.
Kita nyaman, aman, bahkan sembuh atas kesakitan yang kita rasakan dengan dalih ‘kamu setidaknya memaklumi dan memahami kondisiku’ yang tanpa peduli bagaimana kondisinya. Sudah terlalu akut kita menyembuhkan diri tapi yang menyembuhkan kita justru sakit dan terkuras energinya, lalu akhirnya mentalnya lelah dan berakhir sama seperti kita yang sedia kala.
Ada kalanya menjadi wajar bahwa kita menuntut perhatian dan pengertian dari mereka atas kondisi kita, pun sebaliknya. Mungkin opini ini aku tujukan pula pada diriku sendiri yang sudah terlalu lama membuat teman hidupku menjadi lelah.
Teringat cuitan di twitter yang kurang lebih menyatakan ‘jika kamu dalam posisi mental yang tidak stabil, yang kamu butuhkan bukan sebuah hubungan tetapi masukan dari profesional, jangan menyakiti orang lain bahkan ketika kamu belum siap mental’.
Singkatnya, menjaga kesehatan mental merupakan urusan masing-masing dan wajar kita meminta bantuan orang lain, namun kia harus mengingat dan menghargai dalam batas-batas tertentu kita pun senantiasa harus menjaga kesehatan mental orang lain. Jika dua-duanya menyembuhkan dan sakit bergantian, siklusnya akan selesai kapan?

Komentar
Posting Komentar