Menciptakan Pikiran Positif sebagai Upaya Menjaga Kesehatan Mental
Dini Meilani
Akuntansi Syari'ah
UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Kesehatan mental tentunya menjadi hal yang penting untuk diketahui. Namun, kurangnya edukasi menyebabkan masyarakat Indonesia cenderung mengabaikan masalah kesehatan mental. Padahal, sama halnya seperti siklus sehat-sakitnya fisik, hal demikian juga bisa terjadi pada kesehatan mental. Hasil survei Populix bahkan menunjukkan bahwa satu dari dua orang di Indonesia merasa punya masalah gangguan kesehatan mental, tepatnya 52% dari keseluruhan masyarakat Indonesia, tentunya ini adalah jumlah yang cukup besar.
Gangguan kesehatan mental bisa dipicu oleh berbagai faktor, bisa dari internal seperti genetik atau penyakit gangguan otak; dan dari faktor eksternal. Menurutku, pemicu yang paling umum ditemukan adalah dari faktor sosialnya, bisa di keluarga, sekolah, atau masyarakat. Sebagai contohnya, pola asuh orangtua yang keras atau selalu membanding-bandingkan anak, cenderung membuat anak jadi pribadi yang merasa rendah diri, memberontak, dan kadang menyebabkan stress. Hal ini seringkali dikemukakan oleh para psikolog, bahwa pola asuh seperti ini dapat memengaruhi kesehatan mental anak. Selanjutnya, di lingkungan sekolah misalnya, perundungan atau bullying yang masih sering terjadi memberikan dampak buruk bagi kesehatan mental, utamanya bagi korban. Apalagi di era serba digital seperti sekarang, yang dikit-dikit komentar sana-sini. Meskipun sosialisasi tentang bahaya bullying seringkali disampaikan, faktanya kasus bullying masih sering terjadi.
Data terakhir dari KPAI tahun 2022 melaporkan sebanyak 226 kasus bullying dengan kekerasan fisik dan mental telah terjadi di lingkungan sekolah. Dampak negatif yang kemudian timbul pada korban bisa berupa depresi, jadi anti sosial, dan yang paling parah adalah bunuh diri. Faktor berikutnya yaitu masih terbatasnya akses terhadap fasilitas seperti klinik psikologi/psikiater ataupun karena tarifnya yang cukup mahal, menyebabkan masyarakat kita jarang memeriksakan kesehatan mentalnya.
Namun, meskipun begitu menurutku ada banyak upaya yang bisa kita lakukan dalam menjaga kesehatan mental. Yang paling utama adalah membentuk kesadaran diri serta menciptakan pikiran yang positif. Ketika kita mulai merasa nggak baik-baik aja atau merasa nggak nyaman jangan disimpan sendiri, berceritalah kepada orang terdekat yang bisa dipercaya. Mengutip dari Indah Sulistyorini, M.si, Psi seorang psikolog mengatakan bahwa masalah yang disimpan sendiri seringkali membuat kita menekan emosi-emosi yang menjadi dampak munculnya masalah kesehatan mental.
Upaya selanjutnya adalah mencari lingkungan yang sekiranya dapat memberi efek positif dan dukungan kepada kita. Misalnya, menjaga kedekatan dengan keluarga atau mencari circle pertemanan yang baik, serta menyibukkan diri dalam hal positif. Karena kita nggak mungkin berdiri sendiri, kita pastinya perlu dukungan baik dari keluarga atau teman. Dan menurutku, hal
yang tak kalah penting adalah dengan menjaga kesehatan spiritualisme. Banyak mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, menyerahkan semua keluh kesah kepada-Nya, akan membentuk emosi positif dalam diri, karena dengan begitu kita akan mudah dalam menerima dan menghadapi segala masalah yang terjadi karena kita meyakininya sebagai bagian dari ketentuan-Nya. Perlahan-lahan kita akan mampu mengendalikan emosi dalam diri sehingga terjagalah kesehatan mental kita.
Namun, apapun upaya yang kita lakukan pada akhirnya semua tergantung kepada diri kita pribadi, apakah mau menjaga kesehatan mental, apakah mau menjaga diri agar selalu dalam keadaan yang baik-baik saja.
Sumber referensi:
https://www.depoedu.com/2022/12/13/edu-talk/membaca-statistik-tentang-kasus-bullying-di- indonesia/
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/10/27/survei-populix-1-dari-2-penduduk- indonesia-punya-masalah-kesehatan-mental
https://sardjito.co.id/2022/03/09/minimnya-kesadaran-masyarakat-terhadap-mental-health/
https://dinkes.kalbarprov.go.id/hari-kesehatan-jiwa-sedunia-tahun-2022-kesehatan-mental- penting-untuk-diperhatikan/

Komentar
Posting Komentar