Jatuh Bangun Ngejar Tren, What?

Isma Maulana Ihsan 

Ilmu Politik 2021

UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Perkembangan teknologi yang semakin massif dewasa ini, membuat sejumlah generasi  khususnya generasi z menjadi candu. Bukan, bukan tercandu-candu sama Alif Cepmek dengan kamu nanyae? 

Tapi candu dalam pengertian yang terlalu mengkhawatirkan, seperti mengkhawatirkannya  percintaan Fajar SadBoy dengan quote-qoute ciamiknya. 

Melansir dari lama idn.times banyak remaja dewasa ini merasa tertekan dan merasa terisolasi  serta kesepian yang cukup intens di tengah perkembangan teknologi yang jor-joran.  

Banyak dari kita, maybe penulis juga yang kadang ngerasa sepi di tengah keramaian dan merasa  hidup gak seberuntung orang-orang yang dilihat di media sosial, “Ih, dia umur 20 tahun udah  sukses banget, jadi pengin deh!” 

Hal di atas sempat diperparah dengan adanya pandemi covud-19 yang memaksa manusia untuk  semakin tidak berinteraksi secara langsung dengan manusia lainnya. 

Kemudian, banyak dari kita melihat dunia luar melalui media sosial. Di mana seperti banyak  kita ketahui bersama, kadang keindahan di media sosial bukanlah keindahan sesungguhnya di  dunia nyata. 

Tapi, tetap saja kita sering merasa jauh tertinggal jika tidak mengikuti apa yang nampak di  media sosial. Kita pun terjebak dalam budaya FoMo (Fear of Missing Out), yaitu suatu keadaan  gangguan jiwa berupa perasaan yang berlebih untuk mengikuti tren. 

Ah, kalau kita menyetir pendapatnya Mbak Najwa Shihab ikut tren media sosial itu ndak akan  pernah puas. Karena selalu ada tren-tren lain lagi yang agaknya menjadi “wajib ain” untuk kita  ikuti, padahal itu namanya gangguan jiwa!, ngerii

Sayangnya banyak daripada kita yang belum menyadari kebiasaan ‘buruk’ ini. Dari kepengin gaul, berujung pada rasa capek sendiri, karena seolah-olah akan tertinggal jauh dari orang orang pada saat kita gak ikut tren, padahal gak gitu lho aslinya. 

Mengutip salah satu quote yang penulis sukai saat membaca buku Arah Langkah karya Fiersa  Besari bahwa apa yang dikira keren pada waktunya nanti akan disebut alay. Begitu pun sebaliknya, kita acap mengatakan ini alay tetapi pada saat yang lain yang menurut kita alay itu  malah menjadi keren. 

Masih teringat jelas dalam ingatan bagaimana Bowo si King of TikTok dihina karena alay  katanya main tiktok eh ternyata sekarang hampir semua orang main tiktok. Begitu juga, apa  yang dikira keren ternyata bisa jadi begitu alay, saat kita mengingatnya balik. 

Dulu, berambut panjang terus menutupi mata seperti Uchiha dinilai keren, sekarang dinilai  kampungan. Ah, jadi rasa-rasanya gak perlu deh mengikuti sampai jatuh bangun akan suatu  tren yang ada. 

Kamu nggak perlu ngerasa perlu tau dan ikut segala hal, yang perlu kamu lakukan adalah  mengikuti apa yang kamu suka dan kamu inginkan, jangan karena terpaksa atau karena cuma  ingin terlihat “gaul”

Kecuali, ya kesukaan kamu itu mengikuti tren-tren terbaru, harapan kamu itu cuma pengin  dapat pujian yang gak jarang cuma palsu. 

Tapi, kan aku suka ngerasa ketinggal kalau gak ikut tren? 

Halooo, memangnya siapa juga sih yang akan peduli saat kita ikut atau enggak ikut tren?  Agaknya manusia hari ini, menyetir dari laman yang penulis sebut dimuka semakin individualis  dan hilang empati. 

Dunia ini, rasa-rasanya terlalu luas dan banyak hal yang lebih penting daripada sekadar  memerhatikan kamu; apakah ikut tren atau nggak, toh mereka juga gak akan peduli kan? 

Tapi, ada kok yang bener-bener peduli?  

Kalau emang bener-bener peduli, mau kamu ikut atau nggak ikut tren kamu tetap bakal mereka  istimewakan. Ya, kecuali mereka pedulinya saat kamu ikut “gaul” versi mereka doang, itu  peduli yang ada tujuannya.  

Hati-hati, banyak teman fake di sekitar kita, mari jaga Kesehatan mental kita dengan tidak  ngebut-ngebut pengin ikutin tren.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pahami Apa Itu TD Valas DHE, Instrumen Operasi Moneter Bank Indonesia

Tentang Program Beasiswa Bank Indonesia

Penting! Cara Bertahan Hidup di Suhu Bumi yang sedang Labil