Hidup Terukur Bermental Santuy
Alwi Salma
Komunikasi dan Penyiaran Islam
UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Pernahkah sobat ketika menginjak usia 20 tahun, atau memasuki semester 5 atau 7 memikirkan kalau masa depan mau jadi apa, belum tergambar secara jelas langkah apa yang akan dilakukan selanjutnya. Semua lintasan ide yang terbersit di kepala dengan berjubel-jubel. Tanpa ketidakpastian. Yups, itulah yang sering kita sebut quarter life crisis. Quarter life crisis merupakan fase ketika seseorang mengalami ketidaktahuan arah kehidupan yang dituju sehingga menganggap hanya beban yang dilaluinya setiap hari.
Secara tidak sadar, lambat-laun namun pasti, fase ini menggerogoti kesehatan, kekuatan, dan mindset. Walhasil, tampak lemah-lesu, tidak bergairah/bersemangat, dan cenderung stress. Lebih parah lagi, menyalahkan keadaan yang “begitu-begitu saja”, bukan “bangkit” untuk memperbaiki dan mengintropeksi diri. Termasuk terdapat stigma bahwa “kalau cape ya udah cape”, “lha kok hidup gua diuji terus ya”, dan banyak ungkapan lainnya yang senantiasa terlontar dari mulut. Padahal stigma negatif atas apapun yang menimpa dirinya adalah perbuatan dirinya sendiri.
Setidaknya kesehatan mental terpengaruh oleh tiga hal, yaitu: (1) keadaaan/lingkungan sekitar; (2) pola pikir/mindset; dan (3) ketidaktahuan untuk bertindak. Mari, kita bedah perlahan. Berbagai tantangan kehidupan yang datang secara terus menerus, menuntut kita untuk melakukan effort yang lebih untuk menyelesaikannya, padahal kita ingin tidak ada beban. Sehingga, sedikit demi sedikit mulai menyalahkan keadaan, merasa insecure, kehilangan pengendalian diri, yang mengakibatkan kesehatan mental menurun.
Selanjutnya, pola pikir/mindset. Mayoritas kehidupaan manusia digerakkan oleh pola pikir. Terlihat perbedaan yang signifikan ketika seseorang bermindset positif cenderung memiliki perasaan ceria, optimis, dan punya potensi untuk menalukkan berbagai masalahnya. Mindset laksana kekuatan nuklir yang tersimpan dalam diri, dia bisa menjadi kekuatan luar biasa untuk mengarungi samudera kehidupan. Namun, mindset pula bisa menjadi radiasi nuklir yang mampu melululantahkan kehidupan dirinya dan berpengaruh terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya.
Walhasil, akibat dari mindset lumayan besar, jadi mulai sayangi pikiran dan kasih nutrisi yang bergizi.
Terakhir, ketidaktahuan dalam bertindak. Inilah pentingnya ilmu pengetahuan sebagai guiden atau pembimbing yang senantiasa menuntun pemiliknya agar tetap pada jalan kebenaran. Ketidaktahuan mengakibatkan kerusakan mental lebih mendalam. Tahu rasanya sakit, tapi tidak tahu cara mengobatinya. Hari ini, peran membaca literasi sangat penting untuk menjadi benteng dalam memagari virus-virus yang mengganggu kesehatan mental.
Sebagai penutup, solusi dalam Al-Quran yang dapat menjadi I’tibar (contoh konkret) dalam problem solving mengenai kesehatan mental, yaitu:
وَاَنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَاَحْسِنُوْا ۛ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ
Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang orang yang berbuat baik (QS Al-Baqarah [2]: 195)
Referensi:
Al-Quran al-Karim
Arafat. (2018). Hijrah Rezeki. Cirebon: KMO Indonesia.
Faris, Mohammed. (2016), Muslim Produktif. Jakarta: Elex Media Komputindo. Manampiring, Henry. (2019) Filosofi Teras. Jakarta: Kompas.

Komentar
Posting Komentar